moriarty:

how come no one ever talks about how hans was about to slice elsa’s fucking head off

image

its like every character in the movie was g-rated disney, except for hans, hans literally came straight out of game of thrones

(via thefuuuucomics)

greytheories:

Evil little woodpecker, you made another hole today. The forest is full of holes, I say. The angry wood god put poison in your beak. 
„Poor little woodpecker, your food and nest are poisoned, touch your friends and they all die.“

Sad little woodpecker. His tears twinkle and shine. 

Filosofi Rak Buku

"Hidup itu kayak rak buku, Gus. Tuh liat ngga sebelah Kipas angin? Sempit kan? Nah itu!"


Seperti biasanya. Terlalu klise karena diulang setiap hari. Itupun karena tidak adanya option lain untuk dilakukan. Berbaring. Bermalas-malasan. "Sampai kapan?!" pikirku. Entahlah.

Lengkingan A Skylit Drive kuhentikan ketika mendengar metronom lain yang lebih cepat. Ketukan Pintu rupanya. Tidak ada orang lain di rumah ini yang mau mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke kamarku kecuali dia. Kaget. Ada apa.

"Masuk, Pa!" Sahut ku.

Dia masuk dengan peci hitam yang selalu ia kenakan di jam-jam setelah Ashar. Biasanya dia masuk ke kamarku hanya untuk meminjam alat tulis atau minta aku memijat kepalanya.

"Lagi apa, Gus?" tanya beliau.

Aku heran setengah mati. Pertanyaan jenis ini yang keluar dari mulut bapakku hanya datang setahun sekali. Atau mungkin tidak sama sekali.

"Diem mulu di kamar sih? Kenapa ngga main keluar?"

"Kemana, Pa? Temen-temen juga sibuk semua disini" jawabku.

Dia tidak menjawab. Ia menghampiriku dan duduk di bibir tempat tidurku.

"Itu si Novi ada di rumah kok. Lagi sakit dia. Jadi nggak kerja hari ini. Nggak minat jenguk?" tanya nya.

Aku hanya diam. Sesaat melihat keluar jendela. Mendung. Cuaca belakangan ini memang menyebalkan.

"Gus. Kamu ngga penasaran toh bapak masuk tiba-tiba ke kamar kamu gini?"

Seperti biasa. Orang tua yang satu ini selalu membuatku terlihat sangat bodoh dalam pembicaraan. Dia seolah tahu kemana arah yang kupikirkan. Dan dia sudah menanti diujung arah yang kupilih sambil mentertawakanku.

"Kenapa gitu, pak?"

"Heuh… Budak ayeuna. Sok-sok nggak ngerti kalo diajak ngomong orang tua”

Aku ingat pagi hari tadi aku sempat membicarakan masalah kuliahku nanti. Tapi itu dengan mamah ku. Sepertinya dia sudah cerita ke bapak ku ini.

"Bapak ini bukan orang pinter loh, Gus. Bapak tuh cuma tahu satu mata pelajaran aja". "Kamu tahu ngga sih? Ada kalanya profesor kayak pak Habibie itu nanya sama orang yang ngga sekolah dasar. Ya contohnya nanya jalan kalo beliau kesasar, iya toh?"

Aku tersenyum mendengarnya. Aku melihat kearah jendela sekali lagi. Kosong.

"Kita ini ngga bisa tahu semua hal loh. Apa yang mamah kamu obrolin di warung aja bapakmu ini nggak tahu. Itu sebabnya butuh orang lain buat bersosialisasi. Bapak tuh dulu nyari temen bukan cuma sekedar buat main aja. Tapi juga buat diperes pengetahuanya.". Dia berhenti sejenak. Aku masih menatap keluar jendela. Masih kosong.

"Kamu ini jadinya mau kuliah ngambil jurusan apa?"

Pertanyaan ini, entah mengapa, selalu membuatku hilang kepercayaan diri.

"Maunya sih DKV pak" jawabku. Entah kenapa, mataku mendadak berkaca-kaca.

"Apa itu, Gus?"

Badanku gemetar. Kenapa aku bisa secengeng ini. Aku diam, entahlah. Aku berat menjawab petanyaan itu.

"Gus. Bapak itu beneran nggak ngerti apa itu DKV. Tapi yang perlu kamu tahu, tuh liat sebelah sana!"

Aku bingung. Dia menunjuk ke arah rak buku yang ada di kamarku.

"Hidup itu kayak rak buku, Gus. Tuh liat ngga sebelah Kipas angin? Sempit kan? Nah itu!". "Bukan cuma sempitnya. Tapi rak buku itu sebelum diisi sama deretan buku-buku kamu, buku-buku bapak juga pernah ada disitu, sempit banget!". "Buku tua diganti sama buku baru. Kalo kamu ngga punya duit banget ya kamu bisa turunin rak itu ke anak kamu nanti".

"Sama kayak jaman sekarang ini. Banyak pastinya mahasiswa sejarah yang lebih pinter dari bapak. Malah kayanya anak SMA juga ada.".

Aku menunduk. Selalu terpikirkan olehku bahwa aku anak yang gagal. Sudah masuk kuliah malah keluar lagi mau masuk ke yang lain. Buang-buang duit orang tua. Gagal!

"Kamu nggak gagal, Bagus. Kamu cuma buku baru yang bapak letakkan di rak yang salah. Ya, bisa dibilang ini kegagalan bapak, Gus. Bukan kamu."

Kali ini sudah tak terbendung. Air mataku keluar. Aku hanya berani melihat jendela. Aku tidak ingin terlihat cengeng di depan bapak ku.

"Apapun DKV itu, bapak yakin itu adalah sesuatu yang bagus. Kamu kan anak pinter, toh. Bapak percaya sama pilihan kamu. Bapak akan dukung kalaupun itu harus menjual sawah-sawah yang bapak garap di sini. Karena itu mimpi kamu kan, Gus?"

"Kamu belum sholat Ashar kan? Sana sholat dulu. Minta ampun sama Allah. Kalaupun kamu ngerasa gak punya salah, ya minta aja."

Ia pun bangun lalu berjalan keluar kamar ku. Aku masih melihat kearah jendela saat itu. Masih mendung. Tapi setidaknya tak lagi menyebalkan.